Bandung, TJI – Kapan sebaiknya rencana bisnis (business plan) harus dibuat?, Para ahli berbeda pendapat dalam hal ini. Kuratko (2019) dan pakar lainnya seperti Timmons dan Spinelli (2006) menekankan pentingnya wirausahawan baru mempersiapkan rencana bisnis sebelum memulai bisnisnya, dengan harapan rencana bisnis tersebut dapat memandu pengembangan bisnis dalam jangka panjang.
Namun ahli lain seperti Ewing Marion Kauffman dan Carl J. Schramm (2018) memandang bahwa penyusunan rencana bisnis untuk memulai bisnis baru merupakan kegiatan yang tidak realistis karena lingkungan bisnis sangat dinamis dan penyusunan rencana bisnis seringkali hanya memperpanjang nascent periode. Sehingga ide bisnis mereka tidak segera dieksekusi menjadi sebuah usaha baru.
Yang dimaksud dengan nascent periode adalah masa tunggu yang diperlukan nascent entrepreneur sejak mereka menemukan peluang usaha, merumuskan ide usaha hingga menjalankan usaha baru (start-up business).
Realita yang terjadi saat ini justru lebih menguatkan pendapat Schramm dimana para pelaku UMKM pada umumnya memulai usaha tanpa terlebih dahulu menyusun dokumen perencanaan tertulis yang dinamakan business plan.
Hal ini juga dialami oleh para pelaku UMKM di Kota Bandung yang sebagian besar memulai usaha tanpa terlebih dahulu menyusun business plan. Kendati demikian, penyusunan business plan secara parsial mulai dilakukan oleh para UMKM manakala usaha mereka sudah berjalan dan disesuaikan dengan kebutuhan para wirausaha.
Sebagai contoh, manakala wirausaha pelaku start up business membutuhkan tambahan modal usaha, maka penyusunan business plan lebih ditekankan kepada aspek marketing dan keuangan. Demikian pula pada saat wirausaha pelaku start up business ingin meningkatkan penjualan produknya, maka business plan yang mereka buat lebih ditekankan pada aspek analisis marketing.
Business plan yang dibuat setelah usaha dijalankan dinamakan experiential business plan. Mengingat pentingnya penyusunan business plan yang disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan usaha, maka Cluster Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Bisnis dan Manajemen Universitas Widyatama mengadakan pelatihan dengan tema : “Pelatihan Pembuatan Experiential Business Plan Untuk UMKM Di Lingkungan Kelurahan Padasuka Kecamatan Cibeunying Kidul Kota Bandung”.
Pelatihan ini diikuti oleh para pelaku UMKM di Kota Bandung yang diselenggarakan secara on line pada tanggal 24 Agustus 2021 dan diikuti oleh 50 peserta.
Ketua Cluster PKM yaitu Ismail Solihin menjelaskan tujuan pelaksanaan pelatihan ini adalah untuk memberikan pembekalan praktis kepada para pelaku UMKM agar mereka dapat menyusun business plan yang disesuaikan dengan kebutuhan usaha para pelaku UMKM.
Dengan diadakannya pelatihan tersebut, diharapkan para pelaku UMKM dapat secara berkesinambungan memperbaiki kinerja usahanya tanpa harus membuang waktu cukup panjang untuk menyusun business plan konseptual yang seringkali tidak terlalu bermanfaat dalam arah pengelolaan usahanya sehari-hari. **TJI**


